PASCASARJANA

| Excellent, Islamic, Civilized

Menumbuhkembangkan Tradisi Akademik di Pascasarjana

Print Friendly, PDF & Email

Pada akhir oktober 2017 lalu, Pascasarjana menginisiasi tradisi akademik baru berupa “bedah disertasi”. Dalam tradisi ini secara sengaja dihadirkan penulis disertasi itu sendiri, yakni Dr.H. Moh Roqib, M. Ag.  Meskipun disertasi beliau telah dipublikasikan oleh penerbit STAIN Press, tetapi dalam bedah disertasi ini kita ingin mendapatkan hal lain yang tidak bisa didapatkan dari membaca buku. Ketika seseorang membaca buku tentu dia akan mendapatkan materi-materi yang ada di dalam buku tersebut, namun seorang pembaca tidak bisa mendapatkan pengalaman langsung dari penulisnya. Kehadiran sebuah buku tidak akan terlepas dari pengalaman psikologis dan sosiologis dari penulis buku tersebut. Oleh karena itu, melalui bedah disertasi ini kita bisa mendapatkan pengalaman langsung tentang latar belakang penulisan disertasi; cara menyusun, menerapkan, dan mengembangkan teori; suka duka penulisan disertasi; dan berbagai informasi lainnya yang tidak bisa didapatkan dari sekedar membaca bukunya.

Tradisi bedah disertasi pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan tradisi bedah buku atau bedah karya ilmiah lainnya. Di pascasarjana tradisi bedah karya ilmiah sudah menjadi makanan sehari-hari. Hampir semua perkuliahan yang ada di pascasarjana dilakukan dengan cara membedah karya mahasiswa dalam satu forum diskusi di ruang kelas. Pertanyaannya mengapa tradisi “bedah disertasi” dikatakan sebagai tradisi akademik baru? Apakah tradisi diskusi yang ada di ruang kelas tidak dianggap memadai untuk menghantarkan mahasiswa dalam memahami materi dan metodologi penulisan karya ilmiah?

Pascasarjana melakukan inisiasi “bedah disertasi” tidak berangkat dari ruang kosong atau tindakan yang diada-adakan. Kami menumbuhkembangkan tradisi ini dilatarbelakangi dari pengalaman-pengalaman kami dan masukan-masukan dari dosen ketika melakukan proses bimbingan, ujian tesis, penulisan makalah, dan presentasi mahasiswa di ruang kelas. Para dosen mengeluhkan “rendahnya” ethos akademik mahasiswa, terutama dalam membaca, menulis, dan menelusuri referensi yang bersumber dari bahasa asing.

Makalah yang dipresentasikan mahasiswa terkadang dibuat asal-asalan, hanya untuk memenuhi tugas mata kuliah dan bahkan ada mahasiswa yang dengan seenaknya mengganti tulisan orang lain dengan mengatasnamakan dirinya. Mahasiswa tidak merasa bahwa mengambil tulisan orang lain dan mengklaim menjadi tulisan sendiri (dalam bahasa digitalnya “copy and paste”) merupakan perbuatan “pelecehan intelektual”. Padahal perbuatan “copy and paste” atau plagiarisme jelas menunjukkan perbuatan pembohongan publik. Mahasiswa membohongi dirinya sendiri, orang lain dan bahkan lembaga pendidikan. Karenanya, plagiarisme menjadi musuh bersama yang harus diperangi dalam dunia pendidikan dimana pun berada, termasuk di pascasarjana. Apalagi pascasarjana diyakini sebagai ujung tombak pengembangan ilmu dan mercusuarnya perguruan tinggi.

Selanjutnya, dalam penulisan tesis pun banyak mahasiswa yang belum mampu menyusun dan menganalisis teori yang akan digunakannya. Mereka banyak mengambil teori dari sumber-sumber rujukan orang kedua, baik yang bersumber dari buku-buku maupun tesis-tesis yang ada sebelumnya. Amat jarang mahasiswa menelusuri lebih jauh sumber rujukan yang asli dari penulis awalnya. Mereka seakan “enggan” untuk mem-browsing atau mencari referensi-referensi yang berbahasa asing dan lebih up to date. Mereka hanya berkutat pada referensi-referensi yang sudah ada di tesis sebelumnya atau buku-buku the second man. Bahkan, ada sebagian mahasiswa yang terkadang mengutip peraturan yang sudah tidak berlaku lagi menjadi rujukan mereka dalam penulisan tesis. Di era digital seperti sekarang ini, sebenarnya sudah tidak ada lagi alasan bagi mahasiswa kesulitan dalam mencari teori-teori yang bersumber dari penulis asli. Sekarang ini banyak buku-buku elektronik (e-book) yang di-publish, jurnal ilmiah yang open acces, dan perpustakaan digital. Semua bisa didapatkan dengan mudah. IAIN Purwokerto pun telah memfasilitasi mahasiswa untuk bisa mengakses berbagai referensi dari berbagai sumber dan dari berbagai perguruan tinggi yang ada di dunia.

Tidak kalah pentingnya, sebelum mahasiswa mengikuti perkuliahan di pascasarjana, terlebih dahulu diberikan orientasi atau pembekalan cara menelusuri referensi dan penulisan makalah yang sesuai dengan standar. Dalam perkuliahan pun mahasiswa mendapatkan mata kuliah metodologi penelitian kualitatif dan kuantitatif selama dua semester. Semua itu sebenarnya sudah sangat cukup untuk membekali mahasiswa dalam kemampuan menulis makalah dan menyusun tesis, namun dalam realitasnya banyak mahasiswa yang kesulitan dalam menulis makalah dan menyusun tesis.

Oleh karena itu, hal yang mesti dilakukan perubahan adalah pada mentalitas dan kemauan untuk bekerja keras. Sudah saatnya tindakan-tindakan instan dan pragmatis dikesampingkan dari tradisi akademik di pascasarjana. Masing-masing kita perlu mengidentifikasi diri, pada titik mana kita memiliki kelemahan-kelemahan. Jika kemampuan berbahasa asing lemah, jangan membentengi diri kita untuk phobia terhadap bahasa asing atau terus lari menjauh dari bahasa asing, tetapi harus dilawan dengan terus menerus belajar tanpa ada kata menyerah. Kita perlu membuka lembar perlembar tulisan bahasa asing untuk ditelaah secara serius dan penuh kesungguhan, insya Allah lama kelamaan akan menjadi biasa. Tidak ada orang bodoh di dunia ini, yang ada adalah orang malas, begitulah kata pepatah yang perlu kita pegangi bersama. Lawan kemalasan dengan membiasakan diri untuk terus belajar, belajar, dan belajar. Demikian halnya dengan kemampuan menulis. Jika kita merasakan ada kelemahan dalam tulis menulis, maka jangan menyerah dan menghindar untuk tidak menulis. Belajarlah terus secara perlahan untuk menjadi penulis yang handal dan profesional. Sejak taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi kita sudah diajarkan cara menulis yang baik dan sesuai dengan kaidah yang ada. Jika demikian, kenapa masih takut untuk menulis makalah atau tesis dengan tangan sendiri. Apakah sudah hilang kepercayaan diri kita bahwa kita mampu menjadi penulis yang handal?

Alasan-alasan itulah yang melandasi kami melakukan gerakan untuk membangun tradisi akademik baru di pascasarjana. Diawali dari hal-hal yang sederhana semacam “bedah disertasi, bedah tesis, atau bedah buku”. Kami ingin memberikan pengalaman dan contoh langsung dalam melakukan riset dan penulisan karya ilmiah. Kami diskusikan disertasi-disertasi dosen dari berbagai perguruan tinggi, tesis-tesis terbaik yang ada di pascasarjana, dan juga buku-buku yang relevan dengan kajian-kajian yang ada di pascasarjana. Gerakan yang sederhana ini tidak akan memiliki arti apa-apa manakala sivitas akademika tidak bisa memanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Partisipasi, dukungan, dan saran dari para mahasiswa dan dosen menjadi bagian yang tidak kalah pentingnya dalam menyukseskan gerakan ini.

Harapan kami semoga gerakan membangun tradisi akademik baru tidak hanya berhenti pada “bedah disertasi”, tetapi terus berkembang pada tradisi akademik lainnya, seperti riset kolaboratif antara dosen dan mahasiswa, publikasi karya ilmiah pada jurnal bereputasi nasional dan internasional, presentasi karya ilmiah di tingkat internasional, dan tumbuhnya pusat-pusat kajian keislaman dan kemasyarakatan yang mendapatkan pengakuan dari masyarakat dan lembaga-lembaga internasional.

Wallahu a’lam bi al-shawab

Updated: November 21, 2017 — 10:00 am
Pascasarjana IAIN Purwokerto © 2017