Sistem Presensi baru di tahun akademik genap 2018/2019

Print Friendly, PDF & Email

Presensi merupakan faktor penting yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan belajar mengajar dan evaluasi. Perguruan Tinggi biasanya menggunakan sistem presensi yang memanfaatkan tanda tangan sebagai bukti kehadiran mahasiswa. Data presensi tersebut dapat digunakan sebagai acuan untuk menentukan apakah mahasiswa tersebut dapat mengikuti ujian atau tidak, dapat juga dapat digunakan oleh dosen sebagai bahan pertimbangan dalam pemberian nilai mahasiswa serta sebagai bahan evaluasi keberhasilan kegiatan belajar mengajar. Menyambut semester genap tahun akademik 2018/2019, Pascasarjana IAIN Purwokerto memberikan pelayanan akademik baru bagi mahasiswa, yaitu dengan menghadirkan mesin presensi sidik jari yang akrab disebut dengan fingerprint. Fingerprint yang dihadirkan disetiap kelas untuk menemani proses perkuliahan ini, selain sebagai upaya untuk mengefisiensikan model presensi manual yang sudah sangat lama digunakan, juga upaya untuk meningkatkan kualitas keilmuan hukum mahasiswa, karena mahasiswa didorong untuk lebih rajin menghadiri perkuliahan. Dengan adanya alat ini diharapkan mahasiswa benar-benar hadir dalam kelas perkuliahan, bukan hanya hadir tandatangannya di presensi saja, sementara badan atau fisiknya tidak ada.

Penerapan sistem presensi perkuliahan yang menggunakan tanda tangan sebagai bukti kehadiran mahasiswa, memberikan celah kepada mahasiswa untuk berbuat curang dalam pengisian daftar kehadiran atau presensi. Sebagai contoh ada mahasiswa yang tidak hadir dalam perkuliahan, namun di dalam daftar presensi mahasiswa tersebut tercatat hadir dalam perkuliahan. Kejadian tersebut sering dijumpai dalam kegiatan perkuliahan, sehingga data presensi tidak dapat dijamin validitasnya. Selain dari sisi mahasiswa, masalah juga sering timbul dari sisi dosen dan pegawai tata usaha. Dosen sering lupa dalam mengisi kartu kendali dan jarang memonitor kehadiran mahasiswa. Pegawai tata usaha mengalami kesulitan dalam validasi dan rekapitulasi data presensi karena jumlah data yang banyak.

Menurut Direktur Pascasarjana, Alat perekam sidik jari ini tidak  berlaku untuk mahasiswa saja, namun juga berlaku untuk dosen pengajar. Sebagai mana mahasiswa, dosen juga diwajibkan melakukan fingerprint sebanyak dua kali di setiap jam mengajar yang menjadi tanggungjawabnya, yaitu sebelum dimulainya jam perkuliahan, dan setelah usainya jam perkulihan. Dosen juga wajib datang ke kelas tepat waktu, dan tidak bisa mengganti-ganti jam kuliah ke waktu dan hari lain, karena fingerprint hanya berlaku di hari dan waktu yang sudah ditentukan.

Updated: February 14, 2019 — 11:26 am