Perjuangan Taman Baca Wadas Kelir, dari Perpustakaan di Teras Rumah hingga Lahirkan Anak Berprestasi

Print Friendly, PDF & Email

Mimpi Heru Kurniawan yang berkemauan ingin meningkatkan derajat pendidikan warga di lingkungan pedesaan tidaklah semudah membalikkan tangan. Membutuhkan kerja keras serta loyalitas tanpa batas. Perjuangan pria kelahiran 22 Maret 1982 itu dalam menyebarkan virus literasi patut diapresiasi. Anak-anak kampung yang semula polos, pemalu dan cenderung kasar dalam bersikap maupun bertutur, bertransformasi menjadi generasi muda yang kreatif dan inspiratif. Anak-anak desa yang semula enggan bersekolah kini beralih menjadi individu yang haus akan pendidikan tinggi. Tahun 2013, Heru beserta keluarga kecilnya pindah dari Tegal, Jateng ke Jalan Wadas Kelir, Kelurahan Karangklesem, Kecamatan Purwokerto Selatan, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Baca juga: Jelajah Literasi, Antologi Kisah 20 Taman Baca Penggerak Mimpi Anak-anak Seiring berjalannya waktu, Dosen Bahasa Indonesia, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto ini mulai berpandangan bahwa lingkungan barunya itu dirasa kurang sejalan untuk perkembangan anak-anaknya yang masih kecil. “Saya prihatin dengan kondisi sekitar. Banyak anak-anak yang putus sekolah dan cenderung kasar dalam bersikap serta bertutur. Insting saya sebagai ayah berupaya memproteksi anak-anak supaya tidak jatuh ke dalam pergaulan yang buruk,” kata bapak empat anak ini.

Dari perpustakaan kecil

Perlahan-lahan Heru lantas merintis pendirian Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Wadas Kelir di awal 2013. Semula TBM Wadas Kelir hanyalah perpustakaan mini yang beroperasi di halaman teras rumah Heru seluas 4 meter x 6 meter. Tak ada niatan apapun, hanya upaya kecil Heru untuk menarik minat baca anak-anak di sekitar rumahnya. Anak-anak di saat jam pulang sekolah boleh membaca-baca koleksi buku yang tersedia secara gratis. Bahkan jika belum puas, buku-buku itu diperbolehkan dibawa pulang. Saat itu, koleksi buku TBM Wadas Kelir masih minim sekitar ratusan buku. “Saya terkejut ternyata perlahan banyak anak-anak yang gemar membaca. Per hari bisa 30-an anak. Di situ pun saya berperan membimbing anak-anak 

melalui dongeng dan belajar bersama,” tutur Heru. “Alhamdulilah, anak-anak menjadi mudah diatur dan la

ma kelamaan para orangtua menyadari potensi anak-anaknya yang terus meningkat. Warga pun mulai mendukung. Sejak itu saya berdoa semoga kelak dari TBM Wadas Kelir akan lahir pemimpin-pemimpin bangsa yang dikagumi,” tambahnya. Dalam perkembangannya, Heru menggandeng sejumlah relawan yang mayoritas berstatus mahasiswa untuk ikut terlibat mencerdaskan warga di desanya.

TBM Wadas Kelir pun bergeser lokasi, tak jauh dari rumah Heru dengan mengontrak lahan seluas 25 meter x 15 meter. TBM Wadas Kelir menjelma menjadi pusat pendidikan kreativitas gratis dan berkualitas. Menempa anak-anak menjadi pribadi yang kreatif, cerdas dan berkarakter. Mereka biasa menyebutnya dengan Rumah Kreatif Wadas Kelir. Bangunan TBM Wadas Kelir bercat warna-warni dan terbagi menjadi beberapa ruangan. Setiap ruangan dipergunakan untuk pengembangan potensi anak dan kegiatan edukatif lainnya. Sementara itu, di halaman depan dimanfaatkan sebagai ruang baca bagi siapapun yang datang berkunjung. Melalui bantuan dari berbagai pihak, koleksi buku TBM Wadas Kelir pun bertambah menjadi 5.000 buku. “Orangtua yang menunggu anaknya belajar, kami arahkan membaca-baca buku di halaman depan dan juga warga silahkan membaca-baca buku yang tersedia. Fokusnya sih ke Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), bimbingan belajar dan pengembangan kretivitas anak-anak. Ada juga kejar paket A, B dan C di TBM Wadas Kelir. Semua gratis tanpa biaya. Saat ini ada 21 relawan yang mayoritas berstatus mahasiswa,” kata Heru.

Anak binaan berprestasi di sekolah

Warga setempat perlahan mulai merasakan dampak yang positif dengan adanya eksistensi TBM Wadas Kelir. Anak-anak mereka yang semula pemalu menjadi berani berekspresi, anak-anak mereka yang semula kasar menjadi santun dan anak-anak yang semula pasif menjadi aktif. Pola pikir dan kecerdasan anak mulai terbangun setelah rutin mengikuti kegiatan di TBM Wadas Kelir. Baca juga: Rumah Baca Lembah Sibayak, Membangunkan Anak-anak di Tanah Karo dari Tidur Tercatat ada puluhan anak-anak yang aktif mengikuti kegiatan pembelajaran di TBM Wadas Kelir. Anak-anak usia dini berjumlah sekitar 40-an, anak-anak SD berjumlah sekitar 20-an dan remaja berjumlah sekitar 15-an. Sementara itu, ada sekitar 30 warga yang mengikuti kejar paket di TBM Wadas Kelir. “Para orangtua di desa kami rata-rata lulusan SD, generasi muda banyak yang lulus SMP dan memilih bekerja kasar. Namun setelah mengikuti kegiatan pembelajaran di TBM Wadas Kelir, anak-anak menjadi bergairah untuk belajar dan bercita-cita sekolah hingga universitas. Kami sangat mendukung dan berharap ada dukungan dari pemerintah supaya TBM Wadas Kelir bisa eksis memajukan warga,” kata tokoh masyarakat Desa Karangklesem, Samsul Hidayat (50).

Tertarik akan pentingnya peran pendidikan, Samsul pun menyarankan istrinya, Chamdiyati (47), supaya berupaya melanjutkan pendidikan SMA-nya yang pupus di tengah jalan. “Menuntut ilmu tidak ada batasan umur.  Alhamdulilah, wawasan saya kini bertambah dan bisa ikut menjadi relawan di TBM Wadas Kelir,” kata Chamdiyati yang menempuh kejar paket C di TBM Wadas Kelir. Aisyah Nur Oktavia dan Wiwik Susanti adalah contoh warga Kelurahan Karangklesem yang aktif di TBM Wadas Kelir. Sejak duduk di bangku kelas 6 SD, keduanya mulai berkenalan dengan TBM Wadas Kelir. Mereka rutin mengikuti pendidikan di luar sekolah dan pengembangan kreativitas di TBM Wadas Kelir, mulai dari menggambar, membaca, belajar, edukasi tentang film, musik, sastra, drama, pantomim, dan sebagainya. Perlahan keduanya pun menjadi siswi yang yang berprestasi hingga saat ini menginjak bangku kelas 2 SMAN 5 Purwokerto.

Satu di antara prestasi mereka yang menonjol yakni Aisyah menjuarai karya ilmiah tingkat kabupaten dan provinsi, sementara Wiwik juara pertama Stand Up Comedy tingkat kabupaten dan menjuarai ajang cipta puisi tingkat SMA se-provinsi. “Saya juga pernah diperkenankan membaca puisi di depan Bapak Anies Bawesdan pada tahun 2015 di Jakarta. Dulu kami minder karena hidup dari keluarga pas-pasan, namun kepercayaan diri itu muncul setelah kami paham pentingnya pendidikan melalui TBM Wadas Kelir. Kami bercita-cita ingin kuliah,” tutur Wiwik.

Tertantang kreatif

Heru mengaku sempat kelimpungan. Di satu sisi, dia membutuhkan anggaran yang tidak sedikit untuk mendukung beroperasinya TBM Wadas Kelir. Dia menyadari sepenuhnya bahwa taman baca tidak bisa selamanya akan bertahan hanya dengan mengandalkan bantuan dan suntikan dana dari donatur. “Jumlah anak didik terus bertambah begitu juga dengan relawan. Saat itu saya dan para relawan yang mayoritas mahasiswa berdiskusi bagaimanakah caranya supaya TBM Wadas Kelir terus berkembang pesat,” ungkap Heru. Melalui upaya keras memutar otak, para relawan TBM Wadas Kelir kemudian bersepakat untuk mengumpulkan anggaran melalui cara lain yang lebih produktif.

Mereka tertantang mengembangkan industri kreatif yang profitnya digunakan untuk mendukung kegiatan pendidikan TBM Wadas Kelir. Pada tahun 2015, “Wadas Kelir Studio” sebagai pusat industri kreatif yag bergerak di bidang pendidikan kreativitas anak lahir. Para relawan TBM Wadas Kelir sebagian menjadi penulis lepas tentang dunia pendidikan di berbagai media. Adapun mayoritas relawan menjual hasil karyanya yang berhubungan dengan dunia anak-anak untuk dibukukan oleh perusahaan penerbit buku mayor maupun minor. Manajemen TBM Wadas Kelir menawarkan ide-ide dan gagasan untuk menciptakan buku-buku literasi anak. Peluang bisnis yang menggiurkan itu muncul karena berdasarkan hasil survei, penjualan buku anak-anak menempati posisi teratas dari penjualan buku-buku lain. “Selain menjadi penulis lepas di berbagai media, kami juga tawarkan jasa menciptakan buku tentang dunia anak-anak kepada perusahaan penerbit buku besar dan kecil. Alhamdulilah respons mereka baik dan kami dikontrak. Hingga saat ini, dalam sebulan kami bisa memeroleh Rp 20 juta dari sejumlah penerbit, termasuk Gramedia. Sedangkan hasil menjadi penulis lepas di media, minimal Rp 70 juta per tahun. Uang itu kami gunakan untuk mendukung TBM Wadas Kelir dan kesejahteraan relawan,” ungkap Heru.

Relawan TBM Wadas Kelir, Risdianto Hermawan (22), warga Banjarnegara, Jateng mengaku senang bisa terlibat menjadi tenaga pendidik di TBM Wadas Kelir. Selain memotivasi dirinya untuk terus berkarya, TBM Wadas Kelir setidaknya telah menjadi keluarga baru yang tak berhenti menuntunnya ke arah positif.
“Saya dulu malu dan pengen keluar kuliah karena jurusan yang saya ambil tidak terpandang. Namun mimpi buruk saya itu hilang setelah banyak diberikan masukan-masukan oleh Pak Heru dan teman-teman di Wadas Kelir. Bahkan tahun 2015 karya tulis saya tentang santri menjuarai lomba penelitian dari Kementerian Agama. Saya juga berencana melanjutkan S2 nantinya,” pungkas Risdianto. Maka tak heran, TBM Wadas Kelir terpilih sebagai salah satu pemenang dalam ajang Gramedia Reading Community Competion (GRCC) 2018. Mereka dinilai konsisten dalam melebarkan sayap literasi dengan segala keterbatasannya serta memberikan dampak positif bagi warga sekitar, terutama perkembangan pendidikan anak-anak.(Puthut Dwi Putranto Nugroho, Caroline Damanik)

Updated: September 27, 2018 — 6:47 pm