PASCASARJANA

| Excellent, Islamic, Civilized

KULDESAK part 3

Print Friendly, PDF & Email

“ISA” si Manusia meta-Sejarah, Jika kita Memahami konsep ini (ruang, waktu, dan manusia universal), kerinduan saya terhadap kehadiran Isa seolah mendapat titik terang dan jawaban. Apakah Isa yang dulu, yang lahir dari rahim suci Maryam, ataukah Isa yang kelak diturunkan oleh Allah SWT untuk memerangi (membunuh) Dajjal & menghancurkan ya’juj-ma’juj di akhir zaman. Bagi saya Isa adalah manusia meta-sejarah, melampaui ruang-waktu, dan manusia universal dengan kadar dan ukuran tertentu (karena ketidak terbatasan hanya milik Allah SWT). Atas Kudrah dan Iradah Allah SWT, Nabiyullah Isa mampu melipat ruang dan waktu (temporal) antara masa lampau dan masa depan. Kualitas bulatan waktu yang dimiliki Isa mungkin diatas milenia (1000 th), sehingga beliau bisa muncul kapanpun dan dimanapun atas izin Allah SWT. Berbeda dengan manusia saat ini, yang jika diambil rata-rata sebagaimana Rasullullah Muhammad hidup (secara jasadi) hanya sampai 63 tahun saja. Manusia ibarat semut yang menyebrang jalan. Mungkin dalam dimensi waktu semut, butuh waktu bertahun-tahun, berganti generasi, ratusan bahkan ribuan generasi untuk bisa sampai ke sebrang jalan lainnya. Namun bagi manusia kualitas Isa, hanya butuh satu kali ayunan kaki untuk bisa sampai dari satu sisi jalan ke sisi jalan lainnya.
Lantas dimana Isa sekarang … ?
Jika saya konsisten dengan teori diatas, maka sebenamya Isa sudah, telah, dan sedang bersama manusia sejak dulu. Sejak, secara jasadi Isa diangkat oleh Allah SWT, ke langit. “Tetapi (yang sebenamya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya, dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (An-Nisaa’: 158). Namun karena keterbatasan pengetahuan dan dimensi manusia (temporal)lah yang menyebabkan tidak bisa mengetahui secara langsung (indrawi/jasadi). lbarat semut yang tidak bisa mengetahui keberadaan manusia. Karena kekerdilan semut, maka pengetahuan dan indranya tidak dapan menjangkau keberadaan manusia yang jauh lebih besar. Kecuali jika manusi menyentuhnya langsung atau menunjukkan keberadaannya dengan meniup, mengusap atau meganggu tempatnya, baru semut akan merasakan kehadiran manusia, itupun tidak utuh. Pengetahuan semut terhadap manusia hanya dikenali dari jenis gangguan yang diterima oleh semut. Sebagai hempasan angin jika ditiup, sebagai benda padat yang mengusir, jika mengusap semut, dan sebagai benda padat yang menghimpit jika mites semut. Coba kita perhatikan sendiri, apa pemah ada semut yang lari ketika kita dekati, padahal sudah jelas bahwa potongan roti yang mereka kernbuti adalah milik kita. Semut baru akan bereaksi (lari birit-birit) jika kita tiup, kebut atau kita goyang tempatnya.

Fathul Adhim – Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam Pascasarjana IAIN Purwokerto

Related posts:

Updated: November 27, 2017 — 9:42 am
Pascasarjana IAIN Purwokerto © 2017