PASCASARJANA

| Excellent, Islamic, Civilized

Belajar Menulis

Print Friendly, PDF & Email

Menulis bagi mahasiswa merupakan kebutuhan primer yang tidak bisa ditinggalkan. Ibarat tubuh yang memerlukan makan dan minum setiap hari, menulis juga menjadi kebutuhan sehari-hari mahasiswa. Dia akan lemas dan tidak berdaya manakala tidak memiliki kemampuan dalam menulis. Menjawab soal-soal ujian, membuat makalah, membuat laporan kegiatan, membuat proposal, dan berbagai aktivitas akademik lainnya yang membutuhkan kemampuan dalam menulis. Banyak mahasiswa yang gagal dalam meraih prestasi akademik di kampus disebabkan karena ketidakmampuannya dalam menulis. Mahasiswa kesulitan menyusun dan memilih kata-kata yang tepat untuk dirangkai dalam kalimat yang enak dibaca dan sesuai dengan aturan main dalam bahasa Indonesia. Demikian juga dalam membuat paragraf, mahasiswa terkadang menyusunnya dalam beberapa ide utama yang terpecah-pecah sehingga satu paragraf bisa dipenuhi oleh beberapa gagasan utama yang sulit dipahami. Apalagi dalam merangkai antar paragraf yang satu dengan paragraf lainnya sehingga menjadi tulisan yang utuh, merupakan problem lain yang dihadapi oleh mahasiswa dalam ketidakmampuannya menulis. Berdasarkan dari realitas yang ada pada mahasiswa tersebut, maka tulisan ini berupaya untuk membantu mahasiswa dalam mengembangkan kemampuan menulisnya.

Semua mahasiswa pada dasarnya memiliki kemampuan dalam menulis. Kemampuan menulis bukanlah takdir yang ditentukan oleh Tuhan atau bakat khusus yang diberikan Tuhan kepada seseorang. Kemampuan dan keahlian menulis memerlukan proses pembelajaran dan pembiasaan dari seseorang. Semakin sering dia menulis, maka kemampuannya semakin terasah dengan baik. Sama halnya dengan kemampuan berpidato, semakin sering berpidato di hadapan umum, maka dia akan semakin pandai dalam berpidato. Seorang yang ingin terampil dalam menulis tanpa melakukan proses pembelajaran dan pembiasaan menulis, hanyalah seorang pemimpi di siang bolong atau seorang yang hanya punya angan-angan besar dan tidak mungkin berhasil. Untuk menjadi seorang penulis yang sukses, tidak ada kata atau pesan yang berhasil kecuali tulislah apa yang kamu tahu, tulislah apa yang kamu senangi atau tulislah apa yang menjadi cita-citamu, atau tulislah…..tulislah….sekehendak hatimu.

Kemauan Untuk Belajar Menulis

Modal dasar yang paling penting untuk memiliki kemampuan menulis adalah kemauan yang tumbuh dari dalam diri sendiri. Banyak mahasiswa yang sudah ikut beberapa kali pelatihan menulis karya ilmiah atau menulis fiksi, tetapi ia tidak memiliki kemampuan menulis. Pasalnya, pelatihan yang diikutinya hanya sekedar memperkaya pengetahuan atau wawasan saja. Dia tidak pernah mau memulai untuk menulis. Kalau pun berlatih menulis karena dipaksa pada saat mengikuti pelatihan. Sesudah selesai pelatihan, kemauan untuk menulis seakan hilang dari dirinya.

Hal yang sama juga terjadi pada pelatihan enterpreneurship (kewirausahaan). Mahasiswa susah sekali untuk diajak menjadi wirausahawan. Pelatihan ikut terus, tetapi selesai pelatihan tidak ada tindak lanjutnya untuk membangun usaha. Pelatihan seakan masuk telinga kanan dan keluar melalui telinga kiri. Sudah banyak dana yang dikeluarkan untuk melatih mahasiswa dalam mengikuti pelatihan kewirausahaan, tetapi dampaknya kurang signifikan. Oleh karena itu, Rhenald Kasali—seorang Guru Besar Universitas Indonesia dan seorang social entrepreneur terkemuka Indonesia—menyatakan dalam salah satu forum pelatihan wirausaha mandiri di Purwokerto bahwa “untuk menjadi seorang wirausaha bukan hanya membutuhkan otak saja, tetapi juga memerlukan otot” artinya bahwa untuk menjadi wirausaha bukan hanya sampai pada pengetahuan saja yang ada di otak, tetapi perlu dipraktekkan secara langsung dengan menggunakan otot.

Jika pendapat Rhenald Kasali tersebut di atas dipakai dalam bidang tulis menulis, maka kemampuan menulis juga bisa tercapai manakala ada kemauan untuk menggerakkan otot tangan. Menulis tidak hanya sampai di otak saja, tetapi membutuhkan goresan tangan untuk menggerakkan ide-ide yang ada di dalam otak tersebut.

Memang untuk memulai menulis membutuhkan perjuangan yang berat. Apalagi bagi kalangan pemula. Dia harus memaksa dirinya untuk mau mencurahkan segala idenya dalam tulisan. Pemaksaan dilakukan dalam rangka menyesuaikan kerja otak dari sesuatu yang tidak biasa menjadi biasa. Dalam teori pembiasaan yang dikemukakan oleh Charles Duhigg, dalam bukunya The Power of Habit (2012) bahwa “ketika kebiasaan muncul, otak berhenti turut serta penuh dalam pengambilan keputusan. Otak berhenti bekerja keras atau mengalihkan fokus ke tugas-tugas lain. Kecuali menemukan rutinitas baru, pola kebiasaan akan berjalan secara otomatis”. Artinya jika seseorang membiasakan dirinya untuk menulis, maka secara otomatis otak akan bekerja dengan mudah. Seseorang tidak perlu lagi memaksa dirinya dengan memeras otak untuk berpikir keras.

Untuk membangun kebiasaan tersebut, ada kemauan keras dalam diri kita untuk mau belajar menulis. Kemauan akan tumbuh manakala kita memahami manfaat yang didapat dari kegiatan tulis menulis. Bisa jadi oang malas untuk menulis karena tidak memahami manfaat dari menulis. Padahal ilmu itu pengikatnya adalah tulisan. Tanpa tulisan ilmu itu akan hilang. Orang yang berilmu bisa saja meninggal, tetapi tulisan yang dihasilkan oleh ilmuwan akan terus abadi dan berusia panjang. Mungkin kita tidak dapat menyaksikan hidupnya Imam Al-Ghazali, tetapi kita dapat mengetahui Imam al-Ghazali dengan tulisan-tulisan atau karya-karya beliau. Orang yang memiliki tulisan akan banyak dibaca, dikenang, dikembangkan dan dido’akan oleh orang lain. Oleh karena itu, salah satu manfaat menulis adalah mengembangkan ilmu pengetahuan.

Selain itu, kemauan juga akan tumbuh dalam diri seseorang manakala ada motivasi eksternal yang menjadi pemicu untuk mau menulis seperti mengikuti latihan menulis, mengejar adanya reward (bayaran) dari menulis, kenaikan pangkat/jabatan, dan lain sebagainya.

Agar kemauan belajar menulis tumbuh secara perlahan dan pasti, maka kita bisa belajar dari menulis hal-hal yang paling mudah untuk dilakukan, seperti menulis pengalaman hidup atau catatan harian, menulis hal-hal yang berkaitan dengan hobby, atau menulis lepas apa saja yang ada di alam pikiran. Prinsip dasar yang perlu ditanamkan dalam diri seorang penulis pemula adalah konsistensi untuk terus menerus menulis setiap harinya, meskipun dalam kondisi sesibuk apapun. Tidak perlu berpikir seberapa banyak dan berkualitas tulisan yang dihasilkan. Konsistensi menulis penting untuk menjaga kebiasaan dan melatih otak supaya terus bekerja dengan mudah. Kemudian dengan konsisten menulis, seseorang akan semakin terlatih dalam memilih kata-kata atau kalimat yang bukan saja memenuhi struktur bahasa Indonesia yang baik, tetapi juga enak untuk dibaca.

Setelah memiliki sedikit banyak pengalaman dalam menulis dan mau meningkatkan kemampuan menulis, maka diperlukan banyak membaca tulisan-tulisan orang lain. Gunanya bagi penulis pemula adalah: Pertama, bisa belajar banyak tentang gaya penulisan yang dimiliki oleh orang lain. Kedua, dapat menemukan kosa kata baru dari tulisan-tulisan yang dibaca. Ketiga, membandingkan tulisan orang lain dengan tulisan sendiri sehingga bisa mengetahui titik kelemahan yang ada pada tulisan kita. Keempat, untuk menambah referensi dan wawasan dalam menulis.

Mencari Bahan Tulisan

Untuk memperkuat kemauan menulis yang bersumber dari diri seseorang, diperlukan adanya upaya nyata untuk mencari bahan-bahan tulisan. Adapun sumber pengetahuan yang dapat dijadikan sebagai bahan tulisan bisa dari mana saja, baik yang bersifat empiris maupun bersifat konsepsional.

Secara empiris, sumber tulisan dapat diperoleh melalui proses pengamatan kehidupan sosial masyarakat, pengalaman hidup, atau hasil wawancara dengan orang lain. Contohnya, tulisan jejak petualang yang ada di salah satu media massa nasional merupakan tulisan-tulisan yang berasal dari pengalaman hidup seseorang ketika ia berkunjung ke obyek wisata tertentu, kemudian dilaporkan dalam bentuk tulisan feature yang ditulis secara popular dan menarik.

Demikian juga, berita-berita yang ditulis di Koran atau majalah, umumnya merupakan hasil pengamatan yang terjadi dalam kehidupan sosial masyarakat. Ada pemberitaan tentang politik, pendidikan, hukum dan kriminal, sosial budaya, olah raga, musik, entertainment dan sebagainya. Para wartawan sebagai pemburu berita secara terus menerus terjun ke lapangan untuk mengetahui peristiwa-peristiwa yang terjadi di masyarakat. Wartawan tidak akan kehabisan berita untuk disampaikan kepada para pembacanya. Setiap hari pasti ada peristiwa unik yang bisa diangkat menjadi berita yang menarik. Wartawan bisa saja melaporkan kejadian secara langsung dari peristiwa yang terjadi atau mewawancarai orang-orang yang terlibat dalam peristiwa tersebut.

Mahasiswa juga pasti bisa menulis dari pengalaman-pengalaman hidup yang dilaluinya atau melalui proses pengamatan secara langsung kehidupan masyarakat. Sebagai contoh, mahasiswa ingin menulis tentang aplikasi hukum fiqh madzhab Syafi’i di bidang ekonomi, maka mahasiswa dapat terjun langsung mengamati proses perdagangan dan transaksi pada komunitas pedagang di pasar tradisional atau pasar modern. Untuk memperkuat hasil pengamatannya, mahasiswa bisa mewawancarai para pedagang tentang proses perdagangan dan transaksi yang digunakannya. Dari hasil pengamatan dan wawancara tersebut, mahasiswa bisa menulisnya secara sistematis dan logis sesuai dengan hasil pengamatan dan wawancara.

Kedalaman tulisan yang ingin disampaikan, sangat bergantung kepada permasalahan yang diangkat, tujuan tulisan dan kemampuan penulis dalam menggali data-data yang ada di lapangan. Jika tulisan diorientasikan hanya untuk pembuatan makalah, maka masalah yang diangkat tentu lebih sederhana dibandingkan dengan tulisan untuk skripsi, tesis atau disertasi. Untuk kebutuhan makalah, mahasiswa cukup mendeskripsikan kenyataan yang ada di lapangan. Jauh lebih bagus lagi apabila diperkuat melalui analisis dengan menggunakan teori-teori yang telah dikemukakan oleh para ahli.

Selanjutnya, sumber tulisan juga bisa didapat dari bahan bacaan yang berasal dari perpustakaan, internet atau tulisan-tulisan yang ada di majalah, surat kabar, atau dari hasil-hasil laporan penelitian. Untuk memudahkan penulisan, terlebih dahulu ditentukan masalah/tema pokok apa yang akan ditulis. Setelah itu kita bisa mengumpulkan beberapa bahan dari berbagai sumber bacaan. Dari bahan bacaan tersebut, kita pilah-pilah ke dalam sub-sub pokok bahasan yang akan dikemukakan. Tugas penulis adalah membangun pola berpikir yang sistematis dan logis sehingga permasalahan yang akan diangkat bisa diselesaikan dengan menggunakan sumber-sumber bacaan yang ada atau melalui gagasan-gagasan baru yang dikembangkan dalam tulisan tersebut.

Mengevaluasi Hasil Tulisan

Bagi penulis pemula biasanya sangat jarang tulisannya langsung jadi dan bisa dikonsumsi oleh khalayak pembaca. Umumnya, hasil tulisannya belum tertata dengan sistematis dan bahkan terkadang banyak pilihan kata yang kurang tepat. Untuk itu diperlukan adanya evaluasi dari orang lain. Penulis perlu banyak belajar dengan orang-orang yang sukses dalam menulis atau dengan teman-teman yang biasa menulis. Kita tidak perlu malu atau sungkan untuk bertanya dan meminta pendapat tentang tulisan-tulisan yang dihasilkan.

Sebelum meminta pendapat dari orang lain, terlebih dahulu dilakukan editing sendiri terhadap tulisan yang akan dikonsultasikan. Editing dilakukan baik menyangkut tata bahasa, alur berpikir, pilihan kata, atau penulisan. Setelah merasa yakin dengan tulisan tersebut dan siap untuk dipublikasikan. Sebaiknya meminta pendapat orang lain tentang tulisan kita. Pendapat tersebut penting untuk meyakinkan bahwa tulisan kita layak untuk dipublikasikan.

Mempublikasikan Tulisan

Pada era digital seperti sekarang ini, mempublikasikan tulisan bukanlah barang yang mahal dan sulit. Setiap orang bisa mempublikasikan tulisan-tulisannya dengan mudah dan tidak memerlukan biaya. Kita cukup menyiapkan tulisan, kemudian mempublikasikannya melalui dunia maya atau internet. Publikasi bisa dengan cara membuat blog sendiri atau memasukkan tulisan ke media lain seperti academica, kompasiana, dakwatuna, dan sebagainya.

Selain melalui media internet, bagi penulis pemula bisa mencoba mempublikasikan tulisannya dengan memanfaatkan majalah dinding yang ada di perguruan tinggi atau memasukkan tulisan-tulisannya ke jurnal-jurnal ilmiah yang ada di lembaga kemahasiswaan atau perguruan tinggi. Dengan cara demikian, akan menambah semangat dan kepercayaan diri tentang kemampuan menulis yang kita miliki.

Jika sudah merasa yakin bahwa tulisan-tulisan kita layak untuk dikonsumsi orang banyak, tidak salah apabila kita mencoba untuk memasukkan tulisan ke media cetak lokal maupun nasional. Diterima atau tidak tulisan kita, tidak perlu dirisaukan. Hal yang terpenting, kita sudah berupaya mencobanya. Jangan pernah berputus asa untuk terus memasukkan tulisan ke media massa cetak. Apabila pada satu media, tulisan kita tidak dimuat. Kita bisa mencobanya kembali menulis dengan tema yang berbeda dan dikirim ke media cetak yang lainnya.

Memang untuk menulis di media cetak, selain kita perlu memiliki kemampuan atau ketrampilan dalam menulis, juga perlu mengenal lebih jauh style tulisan yang dimiliki oleh media tersebut. Masing-masing media cetak memiliki style sendiri-sendiri yang disesuaikan dengan segmen pasar dari media tersebut. Oleh karena itu, untuk bisa mengenal style tulisan di media cetak, perlu kiranya kita membaca dan menganalisa style tulisan-tulisan orang lain yang dimuat di media massa cetak. Kemudian kita mengikuti atau menyesuaikan tulisan kita dengan style yang ada di media massa cetak.

Sekali lagi Penulis menekankan bahwa tidak ada teori cara menulis yang terbaik, kecuali mau memulai untuk menulis. Sekecil apapun upaya yang dilakukan untuk menulis merupakan langkah terbaik untuk menjadi seorang penulis yang handal dan terampil. Selama menjadi mahasiswa, peluang untuk menulis amat terbuka lebar. Manfaatkan peluang tersebut dengan terus menerus mengasah diri dengan cara menulis dari hal-hal yang paling mudah dan disenangi hingga masalah-masalah yang sulit dan membutuhkan pemikiran serius. Selamat mencoba semoga anda menjadi orang yang sukses dan memiliki karir yang cerah akibat dari kemauan untuk memulai menulis.

Wallahu a’lam bi al-shawab

Updated: November 28, 2017 — 11:30 am
Pascasarjana IAIN Purwokerto © 2017